Sejarah
Perkembangan Hadist
- Pada Masa Rasul
- Nabi menyampaikan hadis melalui media: majlis ‘ilmi, melalui sahabat tertentu, ceramah pada tempat terbuka (spt pada waktu haji wada’), perbuatan langsung, dan sebagainya.
- Sahabat yang banyak menerima hadis antara lain: (1) as-Sabiqunal awwalun yaitu: Abu Bakar, Usman, Ali, dan Abdullah Ibn Mas’ud (2) Ummahatul Mukminin atau istri-istri Rasul seperti ‘Aisyah dan Ummu Salamah (3) Sahabat dekat yang menulis hadis yaitu Abdullah Amr bin al’Ash (4) Sahabat yang selalu memanfaatkan waktu bersama Nabi seperti Abu Hurairah (5) Sahabat yang aktif dalam majlis ilmi dan bertanya kepada sahabat yang lain seperti Abdullah bin Umar, Anas bin Malik, dan Abdullah bin Abbas.
- Hadis lebih banyak dihafal karena Rasul melarang menulis hadis agar tidak bercampur dengan al-Qur’an. Namun terdapat beberapa sahabat yang menulis hadis dan disimpan sendiri seperti: Abdullah bin Amr bin ‘Ash (as-sahifah as-sadiqah), Jabir bin Abdullah (sahifah Jabir), Anas bin Malik, Abu Hurairah ad-Dausi (sahifah as-sahihah), Abu Bakar, Ali, Abdullah bin Abbas dan lain-lain.
- Hadist Masa Sahabat
- Disebut juga dengan masa pembatasan dan pengetatan riwayat karena perhatian difokuskan pada penyebaran al-Qur’an.
- Sahabat sangat hati-hati dalam menerima dan meriwayatkan hadis. Setiap hadis yang diriwayatkan harus didatangkan seorang saksi.
- Terjadi perbedaan pendapat tentang pemaknaan larangan menulis hadis pada masa Rasul.
- Hadis Masa Tabi’in
- Dikenal dengan masa penyebaran riwayat. Al-Qur’an sudah tertulis dalam mushaf sehingga perhatian terhadap hadis lebih besar.
- Terbentuk pusat-pusat pembinaan hadis seperti Madinah, Makkah, Kufah, Basrah, Syam, dan Mesir, Maghrib dan Andalus, Yaman, dan Khurasan.
- Terjadi perpecahan politik yang mengakibatkan munculnya hadis maudhu’ (hadis palsu).
- Masa Kodifikasi Hadis
- Disebut juga dengan masa pencatatan hadis atau pembukuan hadis. Masa ini terjadi pada awal abad kedua hijrah.
- Dimulai dengan adanya instruksi dari khalifah Umar bin Abdul Aziz kepada Abu Bakar bin Muhammad bin Amr bin Hazm (gubernur Madinah) dan para ulama Madinah (Muhamad bin Syihab az-Zuhri) untuk mengumpulkan hadis dari para penghafalnya.
- Alasan pengumpulan hadis (1) khawatir hilangnya hadis dengan meninggalnya para ulama (2) khawatir tercampurnya hadis sahih dengan yang palsu.
- Kitab hadis yang berhasil ditulis dan masih ada adalah al-Muwatta’ karya Malik bin Anas.
- Masa Seleksi dan Penyempurnaan Penyusunan Kitab Hadist.
- Terjadi pada akhir abad kedua atau awal abah ketiga hijrah (masa pemerintahan al-Makmun dari bani Abbasiyah)
- Diadakan penyaringan terhadap hadis pada masa sebelumnya, dan dikelompokkan menjadi hadis marfu’, mauquf, dan maqtu’. Disamping itu juga diseleksi mana yang sahih dan mana yang dha’if. Ulama menetapkan kaidah-kaidah kesahihan hadis.
- Kitab hadis yang disusun dengan penyaringan ini dikenal dengan kutub al-sittah atau kitab induk yang enam, yaitu: (1) al-Jami’ as-Sahih karangan Bukhari (2) al-Jami’ as-Sahih karangan Muslim (3) As-Sunan karangan Abu Daud (4) As-Sunan karangan at-Turmuzi (5) As-Sunan karangan an-Nasai dan (6) As-Sunan karangan Ibn Majah.
- Masa selanjutnya ulama menyusun kitab hadist dengan sistematika jawami’ (mengumpulkan kitab-kitab hadis menjadi satu), kitab syarah (komentar), kitab mukhtasar (ringkasan), kitab athraf (menyusun pangkal suatu hadis sebagai petunjuk kepada materi hadis), mentakhrij (mengkaji sanadnya).
- Muhammad bin Abdullah al-Jauzaqi dan Ibn al-Furrat mengumpulkan isi kitab Bukhari Muslim, Abdul Haq ibn Abdurrahman al Asybili, al-Fairuz Zabdi, dan Ibn Atsir al-Jazari mengumpulkan kitab hadis yang enam.
- Ad-Daruqutni, al-Baihaqi, Ibn Hajar al-Asqalani mengumpulkan kitab-kitab hadis mengenai hukum.
Definisi
Hadist:
- Hadist adalah: segala yang disandarkan kepada Nabi Muhammad Saw, baik berupa perkataan (qauly), perbuatan (fi’ly), maupun ketetapan (taqriry).
- Sunnah: segala yang diperintahkan, dilarang, dan dianjurkan oleh Nabi Muhammad Saw, baik berupa perkatan maupun perbuatan.
- Khabar adalah sesuatu yang datang dari sahabat Nabi
- Atsar adalah sesuatu yang berasal dari Tabi’in.
Bentuk-bentuk
Hadist:
Dari
segi sampai tidaknya kepada Nabi, Hadis dibagi menjadi tiga:
- Hadist Marfu’: yaitu hadis yang periwayatannya sampai kepada nabi
- Hadist Mauquf: yaitu hadis yang periwayatannya hanya sampai pada sahabat
- Hadist Maqtu’: yaitu hadis yang periwayatannya hanya sampai pada Tabi’in.
Berdasarkan
pengertiannya, maka yang termasuk kategori hadis yang dapat digunakan
sebagai sumber ajaran Islam adalah Hadis Marfu’. Sedangkan Hadis
Mauquf hanya menempati tingkatan Khabar dan Hadis Maqtu’ hanya
merupakan Atsar.
Ditinjau
dari segi isinya, Hadist dibagi menjadi tiga:
- Hadist qauly: hadist yang isinya berupa perkataan atau ucapan Nabi
- Hadist fi’ly: hadist yang isinya berupa pebuatan Nabi yang dideskripsikan oleh sahabat
- Hadist taqriry: hadist yang isinya berupa ketetapan tindakan Nabi
Diantara
ketiga bentuk hadis tersebut hadis qauly menempati kedudukan
tertinggi, baru kemudian dibawahnya hadis fi’ly. Hadis taqriry
merupakan bentuk hadis yang terlemah.
Unsur-Unsur
dalam Hadist:
- Sanad: yaitu mata rantai periwayatan yang menghubungkan antara penulis hadist dengan generasi di atasnya hingga sampai kepada Nabi
- Matan: yaitu redaksi atau bunyi dari sebuah hadist
- Rawi: yaitu para periwayat hadist yang terdapat dalam rangkaian sanad
Kedudukan
Hadist:
-
Hadist adalah sumber ajaran Islam yang kedua setelah al-Qur’an.
Artinya Hadist menjadi dasar dan dalil bagi aturan-aturan (baik dalam
masalah aqidah, hukum, maupun etika) dalam ajaran Islam bersama-sama
dengan al-Qur’an.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar